Kamis, 23 Oktober 2008

Soekarno dan PKI

Menjelang ulang tahun ke 43 Peristiwa G 30 S PKI, setiap malam TV ONE menayangkan cuplikan perbincangan mengenai peristiwa tersebut. Pokok bahasannya adalah siapa dalangnya dan sejauh mana keterlibatan Bung Karno dalam peristiwa ini. Sebagai orang awam yang samasekali tidak memiliki keterkaitan dengan urusan ini, awalnya hanya menyaksikan sambil lalu. Namun kesimpulan yang tak pernah jelas, ditambah adanya pertanyaan yang jawabannya masih terbayang dalam ingatan, mungkin ada baiknya ingatan yang masih amat segar ini dikemukakan dengan harapan dapat mempermudah para pakar dalam melanjutkan penelitiannya.
Yang masih amat segar dalam ingatan adalah cerita petani penggarap ladang orangtua saya di Sumatra Utara, bahwa nantinya mereka tidak perlu lagi membayar sewa ladang karena siapa yang menggarap tanah dialah pemiliknya. Cerita ini diperolehnya dari teman-temannya sesama penggarap yang sering mengikuti pertemuan-pertemuan dengan orang-orang dari BTI (Barisan Tani Indonesia, Ormas onderbouwnya PKI). Berikutnya adalah peristiwa pengeroyokan yang dilakukan olrh para petani yang menewaskan seorang tentara. Peristiwa ini juga terjadi di Sumatera Utara dan dikenal sebagai “Peristiwa Bandar Betsy”. Masih ada lagi, yakni setiap keluarga diperintahkan untuk membuat lobang dihalaman rumahnya masing-masing. Tujuannya untuk lobang perlindungan bilamana sewaktu-waktu ada serangan udara dari pihak Malaysia, karena waktu itu Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia dalam rangka Dwikora. Kemudian hari, setelah peristiwa G 30 S, dalam penggerebekan di markas-markas PKI diketemukan dokumen berupa daftar nama tokoh-tokoh lokal termasuk pemuka-pemuka agama yang akan mereka habisi setelah mereka menang kelak. Untuk kepentingan inilah sesungguhnya lobang yang dikatakan sebagai lobang perlindungan dimaksud ditujukan.
Sementara di pulau Jawa, yang saya ingat adalah munculnya berita seputar adanya penyelundupan senjata di pantai selatan pulau jawa, dan demonstrasi CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia) ke kedutaan besar Inggeris. Demonstrasi disertai tindakan anarkis yang mereka lakukan menghasilkan penemuan dokumen yang antara lain berisi kata-kata : “our local Army friends”. Kiranya dokumen yang dikenal sebagai “Dokumen Gilchrist” ini adalah hasil rekayasa mereka sendiri, alias palsu. Tujuannya jelas untuk dijadikan bukti dalam mendiskreditkan Angkatan Darat, sekaligus pihak Inggeris.
Tuntutan PKI untuk membentuk Angkatan kelima yang terdiri dari buruh dan tani, bukan saja tidak jelas tujuan dan manfaatnya bagi negara, bahkan mengungkapkan dengan jelas adanya benang merah dari berbagai kejadian yang diungkapkan diatas. Jelasnya, pembentukan Angkatan kelima merupakan tahap akhir penyempurnaan rencana Aidit / PKI untuk merebut kekuasaan.
*
Sebagai proklamator sekaligus presiden pertama negeri ini Bung Karno memang tidak ada duanya. Bukan itu saja, kemampuannya berpidato sangat luar biasa sehingga pendengar tak pernah merasa bosan meskipun telah berjam-jam mendengarkan pidatonya. Itulah sebabnya pengunduran diri Bung Hatta dari jabatannya sebagai Wakil Presiden, yang berarti pecahnya atau tiadanya lagi perpaduan sebagai Dwi – Tunggal yang dikenal selama ini, tidak sedikitpun menimbulkan reaksi masarakat.
Sukses yang dicapai pemerintah dalam pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 sungguh merupakan suatu kebanggaan. Nama Indonesia semakin dikenal di mancanegara. Akan tetapi di luar negeri masih cukup banyak yang tidak tahu ketika kita katakan Indonesia, mereka baru mengangguk sambil mengucapkan Ahmad Sukarno berulang-ulang ketika nama Sukarno kita ucapkan.
Namun, sesuai kodratnya manusia selalu ingin lebih, tak terkecuali Soekarno. PKI yang selalu mencari peluang untuk mencapai ambisinya melihat peluang yang terbuka ini. Ambisi dan nama lumayan besar Soekarno di mancanegara sangat tepat bila digabung dengan potensi China yang mulai bangkit tapi masih terkucil (belum masuk anggota PBB). Terhadap Soekarno Aidit mengedepankan kedekatannya dengan Peking sebagai kawan sepaham, sementara kepada Peking Aidit tidak perlu lagi menyatakan kedekatannya dengan Bung Karno. Sesuai kepentingannya masing-masing, perlahan tapi pasti terbentuklah koalisi : Aidit (PKI)), Soekarno dan Peking (Beijing). Itulah sebabnya ungkapan : “Poros Jakarta, Pnompenh, Peking”, selalu dengan bangga Bung Karno lontarkan dalam pidatonya.
Atas prakarsa Aidit Peking memperlihatkan persahabatannya dengan menyediakan tenaga medis untuk merawat Bung Karno. Sebaliknya, meskipun Asian Games yang dilangsungkan di Jakarta pada agustus 1962 baru saja usai, demi kepentingan yang lebih besar, Soekarno tidak segan-segan mengeluarkan biaya besar untuk menyelenggarakan GANEFO ( Games of New Emerging Forces ) pada November 1963, dengan peserta yang jauh lebih besar dibanding peserta Asian Games. Dengan terselenggaranya GANEFO ini setidaknya sebagian dari sasaran Cina dari koalisi bersama Aidit dan Bung Karno sudah tercapai. Jika pada Asian Games 1962 yang meraih juara umum adalah Jepang, karena Cina belum menjadi anggota, maka pada GANEFO 1963 juara umum nya adalah Cina.
Jika Cina sudah mendapat bagiannya, Soekarno sedang dimabuk kepayang dengan angan-angannya untuk menjadi manusia terbesar ketiga di dunia menandingi John F. Kennedy (Presiden USA) dan Nikita Kruschev (Perdana Menteri USSR). Mengapa ?
Karena saat itu gedung yang akan menjadi Markas Besar CONEFO (Confrence of New Emerging Forces) yang akan menjadi tandingan PBB di New York, sedang dibangun di jalan Merdeka Barat, Jakarta.
Dengan alasan inilah Negara Republik Indonesia pada Januari 1965 menyatakan diri keluar dari keanggotaannya di PBB.
Hubungan dengan negara-negara non blok telah terjalin, gedung yang akan menjadi Markas besar Conefo sedang dibangun dan Indonesia sudah resmi melepaskan keanggotaannya di PBB / UNO. Tinggal selangkah lagi, yakni peresmian berdirinya Conefo sebagai langkah terakhir bagi Soekarno untuk memperoleh bagiannya dalam berkoalisi.
Jika dua peserta koalisi sudah memperoleh manfaat, bagaimana dengan Aidit / PKI ?
Sebagaimana diuraikan diatas, bagian yang mereka dambakan dalam berkoalisi sesungguhnya sudah berada pada tahap akhir.
Kesediaan Soekarno untuk dirawat oleh Tim dokter RRC merupakan bagian awal dari proses pencapaian yang panjang. Pencapaian yang lebih besar adalah tidak adanya keberatan Soekarno atas usul pembentukan Angkatan kelima, bahkan memfasilitasi usaha Aidit untuk meyakinkan keempat Angkatan.
Penolakan Angkatan Darat atas pembentukan Angkatan kelima, memaksa Aidit untuk merobah strateginya. Meskipun tidak dapat dipastikan apa yang dimaksud, namun ungkapan Soekarno dalam salah satu pidatonya : “adalah biasa dalam revolusi bapak makan anaknya”, sangat mungkin merupakan persetujuan Soekarno atas rencana Aidit terhadap mereka yang menggagalkan pembentukan Angkatan kelima.
*
Menyangkut pertanyaan Bung Asvi Warman Adam, untuk apa pembunuhan terhadap para Pahlawan Revolusi mereka lakukan, tidakkah kalau mereka sabar menunggu harapannya akan tercapai juga?
Kegagalan pembentukan Angkatan kelima, jelas merupakan hambatan yang cukup besar dalam usaha mereka untuk merebut kekuasaan. Disamping itu, sebagaimana kita ketahui yang merawat Bung Karno pada waktu itu adalah tim dokter dari RRC. Sebagai kawan tentu mereka senantiasa mendapat masukan atas kondisi kesehatan Bung Karno. Kondisi kesehatan Bung Karno yang memburuk waktu itu mengkhawatirkan mereka jika sewaktu-waktu Bung Karno wafat, harapan mereka untuk merebut kekuasaan hampir mustahil.
Kenyataan inilah yang mendorong mereka untuk bertindak sebelum terlambat. Sedianya niat baik mereka ini akan dilaksanakan tanggal 5 Oktober.
Telah diumumkan bahwa peringatan hari Angkatan Perang tahun ini lebih meriah.
Bahkan tidak akan dilaksanakan di Parkir Timur Senayan sebagaimana biasanya, tetapi akan dilaksanakan di Ancol. Rencananya panggung kehormatan akan di tempatkan menghadap kearah laut, untuk dapat menyaksikan penerjunan pasukan KKO (Marinir) kelaut dari helikopter.
Perencanaan yang indah memang. Betapa tidak, pasukan yang terjun dengan senjata lengkap akan menyerbu panggung kehormatan dimana Bung Karno dan para Jenderal berada. Perlu diketahui bahwa pada waktu itu belum ada bangunan apapun di Ancol, sementara jalan masuk hanya jembatan apung satu-satunya. Lebih dari itu seluruh pasukan peserta parade akan dibekali senjata dengan peluru hampa, kecuali pasukan penerjun.
Lantas mengapa rencana yang demikian sempurna tanpa adanya peluang yang dapat menimbulkan kegagalan tidak mereka laksanakan ?
Kiranya keberatan pihak RPKAD (Kopassus) untuk turut serta sebagai anggota parade karena masih belum pulih dari kelelahan sehabis bertugas di Kalimantan, diartikan lain oleh mereka. Muncul kekhawatiran kalau-kalau rencana mereka telah tercium.
Dibalik berbagai argumen yang telah dikemukakan, yang disamping ada yang tidak mudah mendapatkan buktinya atau mungkin masih kurang meyakinkan, yang paling sederhana adalah mencari koran “WARTA BHAKTI” edisi 1 Oktober 1965. Koran yang dikenal sebagai terompet “PKI” inilah satu-satunya koran yang memuat berita terbunuhnya para pahlawan revolusi.

*

Keberadaan Soekarno bersama Omar Dhani dan Aidit di Halim sekitar jam delapan pagi tanggal 1 Oktober 1965, tidak mudah diketahui tujuannya. Meskipun tanpa menyebut nama Aidit, keberadaan Soekarno di Halim ini diakui oleh Omar Dhani ( Harian Kompas, xxxx) Sejak itu selalu diberitakan bahwa Soekarno menghilang, tidak diketahui berada dimana.
Pada tanggal 4 Oktober, setelah upacara pemakaman Pahlawan Revolusi yang dipimpin oleh Jenderal A. H. Nasution seslesai, diberitakan bahwa Soekarno telah berada kembali di Istana dari persembunyiannya di Istana Bogor. Bukan saja tidak hadir dalam upacara pemakaman, bahkan tidak sepatah kata belasungkawapun diucapkan. Yang pertama-tama Soekarno lakukan adalah mengangkat Mayor Jenderal Pranoto Rekso Samudro sebagai pejabat Pangad. Pranoto yang simpatisan PKI ini tidak sempat bertugas, bahkan tidak ketahuan rimbanya. Tugas ini akhirnya diemban oleh Mayor Jendral Soeharto yang ditetunjuk oleh MKN (Menteri Keamanan Nasional) Jendral A.H. Nasution sebagai Pejabat Harian Pangad.
Yang sudah sangat umum diketahui adalah Soekarno tidak pernah menyebut G 30 S PKI tetapi Gestok. Dan meskipun didesak tidak pernah mau membubarkan PKI.

Mudah-mudahan ada bagian dari tulisan ini yang dapat dimanfaatkan sehingga kesimpang-siuran tidak berkepanjangan.


Jatikramat, 27 September 2008.




Ali A. Siregar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar